Bismillah...
Rindu kami benar-benar memuncak dan akhirnya tumpah ruah pada kegiatan BAKTI SOSIAL (BAKSOS) Ahad pagi, 27 September 2020. Tumpah dalam tema "Menguji Keikhlasan dan Kemurahan Hati Membantu Sesama".
BAKSOS adalah bagian kecil dari rindu kami yang berserakan. Rindu untuk kembali menggerakkan tubuh organisasi, setelah berbulan-bulan mandeg. Kami semakin yakin keikhlasan dan kemurahan hati mudah kami raih dengan rindu. Kemudahan itu benar-benar terasa setelah melihat bersihnya Pemakaman Bindung Timur dari rumput-rumput liar. Pemakaman di Dusun Bindung dipilih karena rumput liarnya sudah meninggi menutupi sebagian makam(kobhuren) yang ada di sana.
Sebelum
Sesudah
Tepat pukul 6 pagi kegiatan bersih-bersih makam kami mulai. Perlahan peserta BAKSOS berdatangan, ANSOR, BANSER, DENWATSER, Kepala Dusun Bindung, juga warga sekitar. Datang dengan perlengkapan masing-masing; pedang, arit, gunting rumput juga cangkul. Sebagian warga juga ada yang menyediakan nasi bungkus, teh, kopi, sampai roti.
Alhamdulillah, sekitar 2 jam, pemakaman yang rimbun dengan rumput kami sulap jadi pemakaman yang bersih dan elok dipandang.
Sebagaimana kebiasaan warga NU, selesai bersih-bersih makam kami bersama-sama menghadiahi bacaan tahlil untuk orang tua, guru juga saudara yang telah mendahului kita. Dengan khidmat dan khusuk kami membaca tahlil dengan menghadap kiblat. Semoga kita semua dianugerahi keluarga yang selamat dunia dan akhirat.
Amin amin yaa robbal alamiin.
Selesai membaca tahlil, seperti biasa kami pun menikmati suguhan yang dipersiapkan Sahabat-sahabati DENWATSER juga warga. Alhamdulillah, lapar dan dahaga kami tuntas sudah.
Sembari matoron nase' kata orang Madura Situbondoan, ada obrolan menarik.
"Biasana panas jem-jem samangken nika, tape ghelle' enten ghi!?"[biasanya jam segini sudah panas, tapi tadi tidak!?], Sahabat Taufiq mulai merasa aneh. "Elindungi para Muassis NU paleng ghi!?"[mungkin kita dibantu para Muassis NU?!], Sahabat Taufiq melanjutkan.
Akhirnya, kami--admin khususnya--mengingat kembali kejadian bersih-bersih tadi. Benar adanya, bahwa kami selama membersihkan makam sampai bacaan tahlil selesai tidak terkena terik matahari langsung alias tidak kepanasan. Karena menurut kebiasaan di Desa kami, Desa Sumberanyar, jam 06.30 matahari sudah meninggi. Harusnya kami tadi kepanasan. Wallahu a'lam, kuasa Allah, berkat permohonan para Muassis NU kita dilindungi Allah dari panas matahari.
Selesai membaca tahlil, seperti biasa kami pun menikmati suguhan yang dipersiapkan Sahabat-sahabati DENWATSER juga warga. Alhamdulillah, lapar dan dahaga kami tuntas sudah.
Sembari matoron nase' kata orang Madura Situbondoan, ada obrolan menarik.
"Biasana panas jem-jem samangken nika, tape ghelle' enten ghi!?"[biasanya jam segini sudah panas, tapi tadi tidak!?], Sahabat Taufiq mulai merasa aneh. "Elindungi para Muassis NU paleng ghi!?"[mungkin kita dibantu para Muassis NU?!], Sahabat Taufiq melanjutkan.
Akhirnya, kami--admin khususnya--mengingat kembali kejadian bersih-bersih tadi. Benar adanya, bahwa kami selama membersihkan makam sampai bacaan tahlil selesai tidak terkena terik matahari langsung alias tidak kepanasan. Karena menurut kebiasaan di Desa kami, Desa Sumberanyar, jam 06.30 matahari sudah meninggi. Harusnya kami tadi kepanasan. Wallahu a'lam, kuasa Allah, berkat permohonan para Muassis NU kita dilindungi Allah dari panas matahari.
Kami yakin, selama pengabdian kami dalam tubuh NU, kami tak akan dibiarkan sengsara, para Muassis NU tak pernah meninggalkan kami. Kami selalu dalam bimbingan dan perlindungan doa para Muassis NU.
Amin.
Semoga amanat besar organisasi ini mampu kami emban bersama.
Kembali kami ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua pihak.
Amin.
Semoga amanat besar organisasi ini mampu kami emban bersama.
Kembali kami ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua pihak.














Komentar
Posting Komentar