Beberapa hari kemarin jagad maya digegerkan dengan adanya komentar kurang elok dari akun instagram @dakwah_tauhid atas tulisan Ma'had Aly Situbondo "Hasil Munas NU Dilaporkan ke Nabi SAW" [Link 1], yang di awal redaksinya tertulis "Super khurafat kelas kakap dengan Dalih Karomah Iramah". Lengkapnya silahkan cek [Link 2]. Dari redaksi ini sudah terasa tendensinya.
Alhamdulillah beberapa hari berikutnya tanggal 2 Februari, Tim Kreatif Ma'had Aly Situbondo melalui akun resminya sudah memberi penjelasan rinci, ilmiah disertai rujukan yang juga rinci tentang komentar dalam akun @dakwah_tauhid. Monggo dicek langsung [Link 3]
Kami dengan bekal pemahaman Ranting mencoba sedikit membantu meluruskan bengkoknya pemahaman akun @dakwah_tauhid dalam hal di atas.
Karena kejadian yang kurang elok ini, akhirnya video ceramah Kiai Azaim Ibrahimy dalam acara Istighotsah Kubro & Ijazah Kubro itu kembali kami tonton.
Sebenarnya dalam ceramah tersebut, khususnya yang dikomentari kurang elok itu, yakni bertemunya KH. Mujib Ridwan dengan Baginda Nabi SAW, Kiai Azaim sudah membatasi, sudah memberi ruang lingkup, bahwa yang paham hanya orang NU saja. "Tentu ini, yang paham bahasa ini ya orang NU saja", begitu beliau menuturkan.
Dari kalimat ini bisa dipahami bahwa untuk memahami kisah yang Kiai Azaim sampaikan, harus NU dulu. Yaa, harus NU dulu. Dalam arti, memahaminya harus dengan budaya berpikir NU serta berpengalaman spiritual layaknya orang NU. Karena jika tidak, bisa dipastikan akan terjadi kebengkokan pemahaman semacam yang @dakwah_tauhid tuliskan. Syaratnya, NU dulu baru paham. Hehe.
Hanya seorang wali dengan karomahnya yang dapat berjumpa dengan Baginda Nabi SAW saat terjaga.
Agus Sunyoto dalam buku Atlas Wali Songo menjelaskan tentang kekaromahan seorang wali. Yang juga berhubungan langsung dengan kemukjizatan seorang Nabi. Penjelasan tersebut ada pada BAB 2: Para Wali dan Dakwah Islam.
Dalam bab tersebut, berdasar ayat Al-Quran dan Hadits riwayat Imam Bukhori dan Abu Dawud, Allah memiliki hamba-hamba pilihan (auliya' atau wali) yang dianugerahi karomah. Karomah para wali yang bersifat supranatural dan tidak sampai melampaui derajat mukjizat para Nabi.
Karomah dan mukjizat berbeda namun berkaitan langsung. Mukjizat mampu mempertahankan dan mengukuhkan kebenaran riil mukjizat. Sementara karomah berfungsi mengukuhkan kebenaran kenabian Rasul sekaligus kewalian. Mukjizat berkaitan dengan publisitas, sedangkan karomah melibatkan kerahasiaan.
Berangkatnya KH. Mujib Ridwan atas perintah KHR. As'ad Syamsul Arifin untuk menyampaikan langsung hasil Muktamar kepada Nabi SAW tentunya dibekali dengan amalan-amalan khusus, tata bahasa yang tepat dan yang pasti dengan akhlak yang begitu mulia. Atas ijin Allah, manusia-manusia pilihan-Nya, manusia-manusia yang dicintai-Nya dapat melakukan pertemuan langsung dengan kekasih-Nya Nabi Muhammad SAW. Maka bukan tidak mungkin pertemuan itu terjadi.
Jadi NU dulu baru paham.
Situbondo, 03 Januari 2020

Komentar
Posting Komentar