Intervensi Muassis NU

Membaca Rotibul Haddad, sebagai kegiatan rutinan kami yang dimulai kembali sejak dua jumat yang lalu, 31 Januari 2020, jumat kemarin kembali berjalan. Kegiatan yang dilaksanakan setiap 2 minggu sekali ini bergantian dari masjid/musholla di dusun-dusun desa kami, Desa Sumberanyar. Dimulai dari dusun paling selatan, Dusun Sekarputih. Kemarin sampai pada giliran Dusun Curah Temu, sebelah utara Dusun Sekarputih yang kami tempati jumat lalu.

Alhamdulillah, anggota yang berkesempatan hadir jumat ini lebih banyak dibanding minggu sebelumnya. Jumlah anggota yang hadir memang tak seberapa, namun bertambahnya anggota yang dianugerahi kesempatan membaca Rotibul Haddad bersama sekaligus bersilaturrahim sesama anggota GP ANSOR SUMBERANYAR patut kita syukuri.

Ada banyak berkah dalam kegiatan rutinan ini. Berkah bacaan Rotibul Haddad bersama, berkah silaturrahim, serta berkah mensyukuri keduanya, bahkan banyak lagi berkah-berkah lain yang hanya mampu dirasakan oleh masing-masing anggota yang hadir maupun yang berhalangan hadir.

Pembacaan rotib kali ini dipimpin langsung oleh Sahabat Imam Taufiqurrahman, Ketua GP ANSOR RANTING SUMBERANYAR. Seperti biasa sesudah membaca rotib bersama dilanjut koordinasi sejenak, alias ngopi. Salah satu yang dibicarakan dalam koordinasi ialah menentukan masjid/musholla mana yang akan kami kunjungi 2 jumat yang akan datang. Dilanjut ngobrol santai sekaligus evaluasi beberapa gerakan organisasi yang mulai non-aktif dan apa yang mungkin bisa segera kita gerakkan bersama dalam organisasi ini.

Cerita sedikit, ada usulan salah satu anggota pada jumat lalu, yang kalau coba kita perhatikan, sedikit berhubungan dengan penentuan masjid yang akan dikunjungi jumat berikutnya. Salah satu anggota usul, bagaimana kalau setiap masjid/musholla yang kita kunjungi diberi kenangan sederhana, apa saja, asal bisa dikenang apalagi bermanfaat. Itu usulan jumat lalu. Usulan sederhana ini, selama 2 minggu berlalu mungkin masih membuat sebagian anggota ragu, kurang yakin dan belum menentukan apa yang bisa sedikit kita berikan untuk masjid/musholla yang kita kunjungi.

Akhirnya keraguan itu terjawab pada jumat 14 Februari kemarin.

Mengapa, karena masjid yang kita jadikan tempat untuk membaca Rotibul Haddad bersama sangat-sangat membutuhkan hal-hal sederhana seperti sapu, keset, kemoceng dan hal-hal sederhana lainnya. Akhirnya kami sepakat usulan salah satu anggota itu harus segera kita gerakkan. Kita mulai dari hal-hal yang kecil dulu. Setiap masjid/musholla yang kita tempati untuk membaca Rotibul Haddad akan kita beri cindera mata sederhana yang bermanfaat. Yang akan diberikan langsung kepada pengasuh masjid/musholla setempat.

Sedikit hubungan yang kami maksud adalah penentuan masjid/musholla yang kami tentukan jumat lalu ternyata bisa menjadi jawaban atas keraguan usulan sederhana yang diusulkan anggota kami. Di masjid yang kita tempati kemarin kami benar-benar merasakan betapa sangat bermanfaatnya hal-hal sederhana seperti sapu dan kemoceng. Karena saat salah satu anggota kami ingin membantu membersihkan masjid yang kami tempati ini, agak kesulitan mencari sapu. Dari sini kami merasa memiliki tanggung jawab untuk sedikit membantu, dengan cara membelikan masjid sapu, keset atau kemoceng. Dimulai dari yang paling sederhana dan paling dibutuhkan.

Kami sebagai kader muda NU merasa bahwa ada campur tangan para Muassis dalam membimbing langkah pergerakan kami. Dimulai dari hal sederhana seperti usul dari salah satu anggota kami. Dari kejadian ini kami merasa mendapat pesan tersirat, bahwa "sekecil apapun kalau itu baik, segera laksanakan". Begitu mungkin gambaran pesan yang bisa kami terima. Karena kami merasa diyakinkan. Kami merasa tak pernah dilepas tanpa bimbingan oleh para Muassis NU. Subhanallah wal hamdulillah.

Untuk para Muassis yang sudah tidak satu frekuensi dengan kita, lahumul faatihah ......




Komentar